JENIS-JENIS PERJANJIAN YANG LAZIM DIPERGUNAKAN DALAM PRAKTEK

 

10.   Perjanjian Sepihak dan Perjanjian Timbal Balik

Perjanjian Sepihak:

Perjanjian yang dibuat dengan meletakkan kewajiban pada salah satu pihak saja.

Misalnya: perjanjian hibah. Dalam hibah ini, kewajiban hanya ada pada orang yang menghibahkan yaitu memberikan barang yang dihibahkan, sedangkan penerima hibah tidak mempunyai kewajiban apapun. Penerima hibah hanya berhak menerima barang yang dihibahkan, tanpa berkewajiban apapun kepada orang yang menghibahkan.

Perjanjian Timbal Balik:

Perjanjian yang dibuat dengan meletakkan hak dan kewajiban kepada kedua pihak yang membuat perjanjian. Misalnya: perjanjian jual beli dan perjanjian sewa menyewa.

 

11.   Perjanjian Bernama dan Perjanjian Tidak Bernama:

Perjanjian Bernama atau Khusus:

Perjanjian yang telah diatur dengan ketentuan khusus dalam KUHPerdata Buku ke tiga Bab V sampai dengan Bab XVIII. Misalnya: perjanjian jual beli, sewa menyewa, hibah dan lain-lain.

Perjanjian Tidak Bernama:

Perjanjian yang tidak diatur secara khusus dalam undang-undang. Misalnya: perjanjian leasing, perjanjian keagenan dan distributor, atau perjanjian kredit.

 

12.   Perjanjian Obligatoir dan Perjanjian Kebendaan

Perjanjian Obligatoir:

Suatu perjanjian dimana mengharuskan atau mewajibkan seseorang membayar atau menyerahkan sesuatu.

Perjanjian Kebendaan:

Perjanjian untuk menyerahkan hak kebendaan. Misalnya: hak milik, hak pakai, dll.

 

13.   Perjanjian Konsensuil dan Perjanjian Riil

Perjanjian Konsensuil:

Perjanjian yang dianggap sah apabila telah terjadi kesepakatan antara pihak yang membuat perjanjian.

Perjanjian Riil:

Perjanjian yang tidak hanya memerlukan kata sepakat, tetapi barangnya harus diserahkan. Misalnya: perjanjian penitipan barang Pasal 1741 KUHPerdata.

 

14.   Perjanjian Cuma-Cuma dan Perjanjian Atas Beban

Perjanjian Cuma-cuma:

Perjanjian menurut hukum terjadi keuntungan bagi salah satu pihak saja. Misalnya: hibah (schenking) dan pinjam pakai (Pasal 1666 dan 1740 KUHPerdata).

Perjanjian Atas Beban:

Perjanjian yang mewajibkan masing-masing pihak memberikan sesuatu, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.

Misalnya: A menyanggupi memberikan kepada B sejumlah uang, jika B menyerahlepaskan suatu barang tertentu kepada A atauMisalnya: A menjanjikan kepada B suatu jumlah tertentu, jika B menyerahkan sebuah benda tertentu pula kepada A

 

15.   Perjanjian Formil:

Perjanjian yang memerlukan kata sepakat tetapi Undang-undang mengharuskan perjanjian tersebut harus dibuat dengan bentuk tertentu secara tertulis dengan akta yang dibuat oleh pejabat umum notaris atau PPAT. Misalnya: jual beli tanah, undang-undang menentukan akta jual beli harus dibuat dengan akta PPAT, perjanjian perkawinan dibuat dengan akta notaris.

 

16.   Perjanjian Campuran:

Perjanjian yang terdiri dari beberapa perjanjian didalamnya.

 

17.   Perjanjian Penanggungan:

Suatu persetujuan dengan mana seorang pihak ketiga guna kepentingan si berpiutang (kreditur), mengikatkan diri untuk memenuhi perikatannya si berutang (debitur) manakala orang itu sendiri (debitur) tidak memenuhinya (wanprestasi).

 

18.   Perjanjian Standar/Klausula Baku:

Perjanjian yang mencantumkan klausul di dalam perjanjiannyadimana satu pihak menghindarkan diri untuk memenuhi kewajibannya dengan membayar ganti rugi seluruhnya atau terbatas, yang terjadi karena ingkar janji atau perbuatan melawan hukum.

Perjanjian standar/baku dapat dibedakan dalam tiga jenis:

1.Perjanjian baku sepihak

Perjanjian yang isinya ditentukan oleh pihak yang kuat kedudukannya di dalam perjanjian itu. Pihak yang kuat dalam hal ini ialah pihak kreditur yang lazimnya mempunyai posisi kuat dibandingkan pihak debitur. Misalnya: pada perjanjian buruh kolektif.

  1. 2.       Perjanjian baku yang ditetapkan oleh pemerintah

Perjanjian baku yang mempunyai objek hak-hak atas tanah. Misalnya: Dalam bidang agraria dapat formulir pengajuan akta hipotek.

  1. Perjanjian baku yang ditentukan di lingkungan notaris atau advokat

Terdapat perjanjian-perjanjian yang konsepnya sejak semula sudah disediakan untuk memenuhi permintaan dari anggota masyarakat yang meminta bantuan notaris atau advokat yang bersangkutan, yang dalam kepustakaan Belanda biasa disebut dengan “contract model”. Misal: Surat Kuasa, Akte Pendirian.

  1. 19.   Perjanjian Garansi:

Diperbolehkan untuk menanggung atau menjamin seorang pihak ketiga, dengan menjanjikan bahwa orang ini akan berbuat sesuatu, dengan tidak mengurangi tuntutan pembayaran ganti rugi terhadap siapa yang telah menanggung pihak ketiga itu atau yang telah berjanji, untuk menyuruh pihak ketiga tersebut menguatkan sesuatu jika pihak ini menolak memenuhi perikatannya.

About alannurfitra

nothing :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s